Senin, 06 Mei 2013

PERUMNAS AKAN BANGUN 1.000 RUMAH DI KAWASAN MAMMINASATA


MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Perumnas Regional VII siap membangun 1.000 unit rumah dikawasan kota baru Mamminasata sebagai kiat mengantisipasi perkembangan kota dikawasan Metropolitan itu.

General Manajer Perumnas Regional VII Permata Bangun, di Makassar, Selasa mengatakan pihaknya siap membangun rumah di kawasan itu sebagai wilayah pengembangan kawasan Makassar, Maros, Sungguminasa dan Takalar (MAMMINASATA).

"Kita sudah meyiapkan lahan 200 hektar dikecamatan Moncongloe, Kabupaten Gowa untuk pembangunan 1.000 unit rumah berbagai tipe, "ujar Permata.

Perumnas, katanya melakukan sinergi dengan berbagai pihak dalam membangun perumahan termasuk dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Negara Perumahan Rakyat.

Pertama Bangun menyatakan, wilayah kerjanya yang meliputi 10 provinsi di kawasan timur Indonesia (KTI) punya posisi strategis dengan beban cukup berat dalam pemenuhan perumahan masyarakat di kawasan ini.

Namun berkat kerja keras serta dukungan pemerintahan dan mitra, maka semua program yang dicanangkan telah terealisasi, termasuk pembangunan 1.562 unit rumah pada 2011.

Pembangunan rumah di Moncongloe kawasan kota baru Mamminasata diharapkan bersamaan dengan pembangunan pasar tradisional modern dengan jumlah 450 kios di kawasan pengembangan kota Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Makassar.

Pembangunan pasar tradisional dengan sistem pengelolaan modern itu berlokasi di blok A/F kawasan BTP dengan investasi Rp 300 miliar, ujar Permata didampingi Muchlis Abbas, manajer pemasaran Perumnas regional VII.(*/tribun-timur.com)

Editor : Muh. Irham
Di copy dari http://makassar.tribunnews.com

PENGUSAHA MULAI INCAR LAHAN BISNIS MAMMINASATA

TEMPO Interaktif, Makassar -   Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia  Sulawesi Selatan Latunreng mengatakan pembangunan kawasan bisnis di sekitar jalur Maminasata menarik kalangan pengusaha. Areal yang  menghubungkan Kota Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar, itu sangat menjanjikan. Namun, kata dia, pengusaha belum melihat konsep detail dari pemerintah.

Latunreng berharap pemerintah menyusun pemetaan infrastruktur di wilayah tersebut, misalnya pembagian wilayah komersil dan permukiman.  "Dari pemetaan wilayah dan perkembangan infrastruktur, pengusaha bisa mengetahui peluang bisnis yang cocok," ujarnya, Minggu (8/11).

Tidak hanya itu. Menurut dia,  pemerintah juga perlu mengoptimalkan fasilitas pendukung seperti listrik yang memadai dan regulasi ketat tapi cepat. "Kami ingin adanya regulasi yang memudahkan pebisnis, tidak bikin susah," ungkapnya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sedang menyiapkan lahan sekitar 3.500 hekatre, yang akan menjadi kawasan bisnis.  Menurut  penanggung jawab proyek, Andi Yurnita Hadrawi, pembangunan jalan dimulai 2010 dan diperkirakan selesai pada 2015.

 “Lahan itu sangat potensial untuk investasi. Mamminasata merupakan kota baru yang didukung daerah permukiman, sarana pendidikan, lapangan golf, dan ruang terbuka hijau,” kata Andi Yurnita seraya menambahkan,  proyek ini  akan menyerap dana sekitar Rp 1 triliun, yang dihimpun dari pemerintah pusat maupun daerah.

Akses jalan yang dibangun antara lain menyatukan jalur trans Sulawesi dan bypass Mamminasata. Dua jalan lain, yaitu Jalan Abdullah Dg Sirua dan Jalan Hertasning, akan menjadi penghubung dari Kota Makassar.  “Fungsi pembangunan jalan ini untuk mempermudah transportasi  antara Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar,” kata Andi.

Kendati masih tahap pembebasan lahan, pebisnis mulai melirik wilayah tersebut. Saat ini puluhan proyek perumahan sudah berada di sekitar jalur Mamminasata seperti di Kecamatan Samata Kabupaten Gowa hingga ke Kecamatan Moncolloe, Kabupaten Maros.  

Andi menambahkan, sekarang  memang belum ada detail pembagian kawasa. Konsep pembangunan baru sebatas memperlihatkan kepada pengusaha untuk mempertimbangkan investasinya di kawasan tersebut.

TRI SUHARMAN

LETAK STRATEGIS WILAYAH

Sebuah Tinjauan Interaksi Spasial 
• Berbatasan langsung dengan kawasan pendidikan SAMATA-BONTO Metropolitan MAMMINASATA. • Akan dilalui Jalan lingkar (Ring road) Mamminasata yang menghubungkan antara kota Makassar, Maros,
   Kawasan wisata Malino.
• Sesuai dengan arahan rencana pembangunan kawasan pendidikan, maka Kelurahan Parangbanoa akan
   terletak diantara Fak. Teknik UH dan Kampus IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri).
• Merupakan kawasan pengembangan Ekowisata dengan segala potensi Ekologi & SDM yag dimiliki.
• Jarak 7 Km dari Kota Sungguminasa (waktu tempuh 30 menit).
• Jarak 12 Km dari Kota Makassar (waktu tempuh 45 menit).

Minggu, 05 Mei 2013

PEP-RES RI Nomor 55 Tahun 2011 Tentang Rencana Tataruang Kawasan Perkotaan MAMMINASATA


Mukhadimah

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 55 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN MAKASSAR, MAROS, SUNGGUMINASA DAN TAKALAR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 21 ayat (1) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Pasal 123 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Makasssar, Maros, Sungguminasa dan Takalar;

Cakupan Wilayah

Bagian Keempat
Cakupan Kawasan Perkotaan Mamminasata

Pasal 5
Kawasan Perkotaan Mamminasata mencakup 46 (empat puluh enam) kecamatan, yang terdiri atas:

a. Seluruh Wilayah Kota Makassar yang mencakup 14 (empat belas) wilayah kecamatan, meliputi Kecamatan Tamalanrea, kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Manggala, Kecamatan Panakukang, Kecamatan Tallo, Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Bontoala, Kecamatan Wajo, Kecamatan Ujung Pandang, Kecamatan Makassar, Kecamatan Rappocini, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mamajang dan Kecamatan Mariso;

b. Seluruh Wilayah Kabupaten Takalar yang mencakup 9 (sembilan) wilayah kecamatan, meliputi Kecamatan Mangarabombang, Kecamatan Mappakasunggu, Kecamatan Sanrobone, Kecamatan Polombangkeng Selatan, Kecamatan Pattallassang, KecamatanPolombangkeng Utara, Kecamatan Galesong Selatan, Kecamatan Galesong dan Kecamatan Galesong Utara;

c. Sebagian Wilayah Kabupaten Gowa yang mencakup 11 (sebelas) wilayah kecamatan meliputi Kecamatan Somba Opu, Kecamatan Bontomarannu, Kecamatan Pallangga, Kecamatan Bajeng, Kecamatan Bajeng Barat, Kecamatan Parangloe, Kecamatan Bontonompo dan Kecamatan Bontonompo Selatan; dan

d. Sebagian Wilayah Kabupaten Maros yang mencakup 12 (dua belas) wilayah kecamatan, meliputi Kecamatan Maros Baru, kecamatan Turikale, Kecamatan Marusu, Kecamatan Mandai, Kecamatan Moncongloe, Kecamatan Bontoa, Kecamatan lau, Kecamatan Tanralili, Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang dan Kecamatan Cenrana.

Tujuan

Pasal 6
Penataan ruang Kawasan Perkotaan Mamminasata bertujuan untuk mewujudkan:

a. Kawasan Perkotaan Mamminasata sebagai salah satu pusat pertumbuhan wilayah dan/atau pusat orientasi pelayanan berskala internasional serta penggerak utama di Kawasan Timur Indonesia;

b. Keterpaduan penyelenggaraan penataan ruang antara wilayah nasional, wilayah provinsi, dan wilayah kabupaten/ kota di Kawasan Perkotaan Mamminasata;

c. Sistem perkotaan Kawasan Perkotaan Mamminasata yang berhierarki, terstruktur dan seimbang sesuai dengan fungsi dan tingkat pelayannya;

d. Keseimbangan fungsi lindung dan fungsi budi daya pada Kawasan Perkotaan Mamminasata sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan; dan

e. Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integritas nasional di Kawasan Perkotaan Maminasata.

MAMMINASATA - DITETAPKAN SEBAGAI KAWASAN EKOREGION


KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP (KLH) menetapkan wilayah Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar (Mamminasata) sebagai kawasan Status Lingkungan Hidup Ekoregion (SLHE).

Peluncuran program tersebut dilaksanakan di kantor Pusat Pengelolaan Ekoregion Sulawesi, Maluku dan Papua (PPE-Sumapapua) Makassar dan dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, beberapa waktu lalu. Penetapan SLHE Mamminasata tersebut bersamaan dengan penetapan Raja Ampat sebagai kawasan Ekoregion. Keduanya dinilai memiliki poteni yang sangat memadai untuk mejadi ikon di wilayahnya masing-masing. Kepala PPE Sumapapua Darhamsyah menyebutkan, Mamminasata memiliki konsep rencana tata ruang terpadu dan merupakan sentra pertumbuhan di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Dengan adanya konsep ekoregion, kawasan ini akan dilaksanakan upaya pemanfaatan ruang, pemanfaatan sumber daya alam, serta daya dukung lingkungan secara efisien.

“Konsepnya nanti ini melalui keseimbangan antar wilayah dan antar sektor serta pencegahan kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup di kawasan Mamminasata,”ujarnya.
Darhamsyah mengatakan, kota Makassar sebagai pintu gerbang pada Wilayah Maros, Gowa, Takalar, sehingga secara ekonomis dapat memberikan pertumbuhan dan perkembangan bagi wilayah di sekitarnya. Apalagi, ujar dia, Mamminasata juga telah didukung dengan pembangunan infrastruktur di bidang jalan dan jembatan, irigasi, jaringan air bersih, yang didesain melalui studi. Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya menyebutkan, selain program tersebut, pihaknya juga telah berupaya untuk menetapkan program rumah ramah lingkungan di 33 provinsi di tanah air. Dengan program KLH tersebut, dia berharap masyarakat bisa hidup lebih ramah dengan lingkungan, sehingga polusi yang bisa merusak alam bisa dikurangi seminimalisir mungkin. ”Ini untuk 33 provinsi di indonesia.
Rumah ini bukannya tidak tradisional sekali, tetapi membuat wilayah perkampungan yang tertata, baik dari penggunaan listrik dan airnya,”pungkasnya.
Terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Sulsel Tamzil Tadjuddin yang juga hadir di Kantor Pusat Pengelolaan Ekoregion Sulawesi, Maluku dan Papua (PPE Sumapapua) mengatakan, program Status Lingkungan Hidup Ekoregion (SLHE) tersebut akan dikawinkan dengan program Pemprov Sulsel yang sementara ini berjalan. Dengan menyajikan data kualitas lingkungan hidup berdasarkan median air, udara, lahan dan kualitas SDA, termasuk keaneka ragaman hayati di kawasan Mamminasata. “Provinsi dan kabupaten/kota juga telah membuatnya setiap tahun. Sehingga, ini akan kita kawinkan dengan program yang di buat oleh PPE Sumapapua,”pungkasnya.

Kunjungi Unhas
Terpisah, dalam kunjungannya ke Universitas Hasanuddin, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, mengharapkan kampus terbesar di KTI tersebut menjadi percontohan pengembangan green campus. Menurutnya, lingkungan kampus sangat mendukung upaya menciptakan suasana yang nyaman dan sejuk bagi mahasiswa. “Dulu waktu saya masih kuliah. Kondisinya masih gersang. Saya berharap green campus terus dilaksanakan Unhas dan menjadi percontohan di Kawasan Timur Indonesia,” ungkap Balthasar di Rektorat Unhas, kemarin.
Menanggapi hal tersebut, rektorat Unhas Idrus A. Paturusi mengungkapkan, pihaknya menargetkan penanaman 2000 pohon pertahun. Saat ini, jumlah pohon yang ditanam sudah mencapai 80 ribu pohon. Selain itu, Unhas mengembangkan hutan pendidikan sekaligus perlindungan tanaman langka yang nyaris punah di Bengo-Bengo Kabupaten Maros.

Dicopy dari: http://www.seputar-indonesia.com

DEWAN DORONG BYPASS MAMMINASATA DIWUJUDKAN


Oleh Ronalyw;

MAKASSAR, BKM-- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel berharap agar proyek lingkar luar atau bypass Makassar, Maros, Sungguminasa dan Takalar (Mamminasata) bisa diwujudkan segera.
Paling tidak, realisasi tersebut untuk jalur yang menghubungkan antara Kabupaten Maros dan Samata Kabupaten Gowa agar pemecahan persoalan kemacetan di Jalan Perintis Kemerdekaan hingga ke Urip Sumiharjo bisa teratasi.
Anggota Komisi B DPRD Sulsel, A Yaqkin Padjalangi, saat menghadiri acara diskusi bakal calon walikota dan wakil walikota Makassar yang dihelat Harian Berita Kota Makassar, Selasa (19/3).
Legislator Partai Golkar ini mengatakan, keberadaan jalan lingkar luar, lingkar dalam dan lingkar tengah sangat membantu memecahkan persoalan kemacetan di dalam Kota Makassar. Alasannya, karena warga yang bedomisili di Kabupaten Maros tidak lagi menggunakan jalur Jalan Perintis Kemerdekaan untuk beraktifitas di Kota Makassar.
"Jalan lingkat luar membantu sekali mengatasi kemacetan. Termasuk membatasi kendaraan yang masuk ke dalam kota Makassar digantikan dengan kendaraan umum seperti busway. Jadi warga Maros bisa memfungsikan busway, agar tidak semua mobil dari luar Makassar bisa beraktifitas di dalam kota," tegas Yagkin.
Sementara itu,  Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel saat ini mulai melakukan inventarisasi untuk membebaskan lahan proyek bypass Makassar-Maros- Sungguminasa-Takalar (Mamminasata).
Kepala Dinas Bina Marga Sulsel Abd Latief sebelumnya mengungkapkan, dalam proses tersebut, pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros dan Gowa akan membentuk tim bersama untuk menentukan jalur baru sepanjang 50 kilometer tersebut.
Dia mengatakan,Dinas Bina Marga telah merampungkan pengerjaan detail engineering design (DED) sejak 2011 lalu, sehingga tahun ini hanya fokus untuk pembebasan lahan milik warga.Jalan baru sepanjang 50 kilometer ini merupakan jalur bebas hambatan,tanpa adanya permukiman penduduk dan pedagang di sepanjang lokasi. Bypass ini, kata Latief, nantinya juga menjadi tumpuan untuk mengurangi kemacetan kendaraan di Kota Makassar. Untuk membangun jalan ini, diperkirakan menghabiskan anggaran Rp850 miliar.
Sementara itu, Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional Sulsel Elfachri mengaku, pembebasan lahan di jalur bypass Maminasata dihitung oleh tim apresial atau tim independen bentukan Pusat.
"Semua proses pembebasan lahan dihitung oleh tim apresial. Kami tidak punya kewenangan lagi menghitung ganti rugi lahan," ujar Fachri.
Rancangan awal, pembebasan lahan dan fisiknya akan dimulai dengan membangun jalan dari Kecamatan Maros Baru melewati Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros.
Kemudian dilanjutkan di Kecamatan Pattalassang dan berakhir di Kecamatan Galesong di Kabupaten Gowa. Bypass Mamminasata merupakan program multitahunan Pemerintah Pusat dan dianggarkan bertahap. Khusus Kabupaten Maros, jalan ini sepanjang 21 kilometer (km), Kabupaten Gowa sejauh 22 km, sisanya Takalar sejauh 5 kilometer. Sementara lebar jalan mencapai 40 meter, dengan jumlah jalur mecapai delapan jalur.(war)

RINCIAN JALAN MAMMINASATA


Section A (Maros-Middle Ring Road)

Pengembangan jalan pada bagian ini adalah pelebaran jalan nasional dari 4 jalur menjadi 6 atau 8 jalur. Kecuali jalan di dalam kota Maros, 4 jalur yang ada akan dibangun kemudian. Jalur jalan dimulai di kota Maros dan melalui jalan nasional sampai ke persimpangan Jl.Ir.Sutami (dekat pintu masuk ke Kota Makassar) dan kemudian melewati Jl.Perintis Kemerdekaan sampai dengan persimpangan middle Ring Road yang direncanakan di dekat Jembatan Sungai Tallo.

Banyak bangunan dan rumah-rumah di sepanjang rute, terutama di sekitar bandara, Mandai, Biringkanaya dan Daya. Volume lalu lintas diperkirakan lebih tinggi dari jalur lain dan populasi kepadatan juga relatif tinggi. Beberapa masjid ada di sepanjang jalan dan rumah sakit umum Daya di titik lintas kota (RS Daya). Terdapat beberapa pasar besar dan kecil sehingga jalan ini sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Kondisi lingkungan alam dan keanekaragaman hayati flora dan fauna diasumsikan pada dataran rendah.

Dampak negatif yang signifikan adalah akuisisi tanah dan pemukiman kembali di kasus pelebaran jalan yang ada. Tampaknya kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu hal penting pada lingkungan sosial. Dimasa depan, kualitas udara dan tingkat kebisingan akan menjadi memburuk karena peningkatan volume lalu lintas. Namun, dampak positif pada penurunan Kemacetan Lalu Lintas sangat diharapkan. Kegiatan ekonomi lokal dan pemanfaatan sumber daya lokal juga akan berdampak positif.

Section B (Middle Ring Road)

Melewati daerah perkotaan Makassar, melewati daerah kepadatan penduduk yang tinggi dan sebagian jalur jalan pada kanal drainase. Rute ini melintasi Sungai Tallo setelah memasuki Ring Road Jl.Perintis Kemerdekaan dari Tengah. Saat ini kondisi lingkungan alam dan keanekaragaman hayati relatif tinggi. Populasi penduduk dari Abdullah Daeng Sirua menuju Sungguminasa di Gowa cukup tinggi.

Kecelakaan lalu lintas adalah item penting untuk dipertimbangkan pada jalur ini. Pencemaran air dan kebisingan selama konstruksi substruktur Jembatan Sungai Tallo perlu diantisipasi. Kualitas udara dan kebisingan akan memburuk di masa depan karena meningkatnya volume lalu lintas.

Section C (Sungguminasa - National Road)

Pembangunan jalan baru sangat direkomendasikan. Rute baru melintasi Sungai Jeneberang setelah Sungguminasa. Sawah dan desa menyebar di sepanjang rute baru di selatan Sungai Jeneberang. Kepadatan populasi relatif kecil.


Section D (Boka - Takalar)

Konsep pengembangan Bagian D adalah pelebaran jalan nasional yang ada dari 2-jalur jalan menjadi 4-jalur jalan. Ada sebuah kanal irigasi di sisi timur sepanjang jalan. Dalam perjalanan ke Takalar, ada kota kecil (Limbung di Gowa dan Palleko di Takalar). Kepadatan penduduk di sepanjang sisi jalan relatif tinggi. Budidaya padi irigasi dominan sepanjang jalan. Jumlah resettlements (rumah dan bangunan) yang besar sebagai pelebaran dapat dibuat pada sisi barat karena saluran irigasi ini
terletak di sebelah timur.

Hertasning Road

Jalan Kabupaten (Bagian D dari Jalan Hertasning) yang terletak di Pattallassang di
Gowa akan diperlebar dari 2-jalur jalan menjadi 4-jalur jalan. Sawah dan budidaya tanaman dominan dan kepadatan penduduk relatif rendah.

Abdullah Daeng Sirua Road

Rute ini menghubungkan pusat Kota Makassar dengan kota baru yang disarankan (kota satelit) di Gowa dan Maros di masa depan. Ini juga akan secara langsung menghubungkan situs baru TPA Mamminasata. Rute yang diusulkan di Kota Makassar dimulai pada pusat kota di mana terdapat bangunan padat penduduk. Bagian B - Bagian D melewati sepanjang kanal air hingga Makassar/ Perbatasan Maros dan konsep proyek pembangunan jalan 2-jalur baru di ROW dari kanal PDAM atau perbaikan jalan inspeksi PDAM yang ada.